#10 IBUK (Percakapan dengan anak laki-lakinya yang sudah bisa makan sendiri)

⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Buk, pikirmu aku tumbuh begitu saja? Di bawah terik awasmu dan di hujan siram matamulah aku telah berkuncup. Aku lambaikan putik-putik cermin dirimu yang siap menjadi setangkai bunga. Kelak ... ." ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Nak, bicara apa kau ini. Bangun. Bereskan tempat tidur. Cuci muka sana. Wudhu. Sholat Sunnah. Sholat Subuh. Terus ngaji. Masuk kamar siapkan [...]

#9 PULANG (menyerah)

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Mungkin dia menyerah," kata Ombak pada Batu Cadas. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Mungkin dia rindu," balas Batu Cadas. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Atau sudah kehabisan uang," kata Sampah yang tergeletak di atas pasir. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Perempuan itu telah mengemas barang-barangnya. Tas yang dia kenakan terikat erat di badan seolah isinya adalah hal paling berharga yang dia punya. Dia duduk di pinggir [...]

#8 AYAH (Percakapan dengan anak laki-lakinya yang sudah bisa berjalan)

"Ayah, wahai kau laki-laki yang bijak seperti tanah, di atas telapakmu aku telah tumbuh menjadi pohon yang buahkan mimpi-mimpi." ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ "Nak, lihatlah. Sekarang, kau telah bisa berdiri dan berjalan. Anak laki-laki yang sejak dulu selalu aku jaga dan awasi ke mana pun berkeliaran. Sekarang yang bisa ayah lakukan hanyalah berkata; hati-hati juga selamat jalan." ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ [...]

#7 PILIH(an)

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Ketika gundah akan suatu hal, dia selalu membuka buku catatan kecilnya. Di situlah dia pernah menulis empat hal penting: ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /i/ Memaki dan nyinyir terhadap pilihan seseorang adalah percobaan membunuh secara pelan-pelan. (Uruslah pilihan(kehidupan)mu sendiri). ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /ii/ Hidup adalah sebuah pilihan. Jadi, menentukanlah. Tidak ada yang berhak menyalahkanmu. Sebab begitulah hakikatnya hidup (memilih) dan [...]

#6 … (Elipsis; merenung sejenak)

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Kita harus sepakati ini, jadi mari, mari! Kita duduk bersama dan pikirkan. Hentikan semua kesibukan dunia! Ya, ya, di sini saja, di atas layar ini. Oh, kau yang baru datang! Masuk! Duduk di pinggir layar! Ya, di situ. Jangan bersandar! Kita semua harus tegak! Lain kali jangan terlambat! Baiklah, saya moderator yang akan bacakan [...]

#5 NAK (dan sepuluh pesan-pesan)

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /i/ Nak? Kalau libur sempatkan pulang. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /ii/ Nak? Kalau libur sempatkan, pulang. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /iii/ Nak? Kalau libur, sempatkan pulang. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /iv/ Nak? Kalau, libur, sempatkan, pulang. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /v/ Nak, kalau ... libur, pulang. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /vi/ ... ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /vii/ Nak. Kalau Ibuk berpulang, sempatkan pulang, ya? ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /viii/ ... ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /ix/ ... ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ /x/ [...]

#4 GOYAH

Bergoyang-goyang, kau goyah Mencoba bertahan, kau melawan. Bergoyang-goyang, kau jatuh. Mencoba bangun, kau ditawan. Ditawan? Oh, nelangsanya dirimu kawan. Kawan, dirimu sekarang adalah apa yang orang-orang sebut titik terendah. Semakin hari kau sadar hati semakin goyah, pikiran kian lelah, kaki kian letih, mimpi semakin jauh. Jauh hanyalah kata sifat untuk membantu jarak mengukuhkan makna sebagai [...]